Langit terasa semakin gelap, kilat mulai bermunculan saat Leena melangkah mendekati Lynx, matanya menatap tajam penuh tanya. Wajahnya masih tampak cemas, dan suaranya bergetar saat bertanya.

"Lynx, kenapa kau diam saja? Bukankah kita harus segera menyelamatkan Rira? Portal itu tidak bisa bertahan lama,  bukan?"

Lala ikut melangkah cepat, suaranya terdengar panik. "Waktunya hampir habis, Lynx. Jika portal tertutup, kita mungkin tak bisa membukanya lagi. Kenapa kau belum juga masuk?"

Namun Lynx tetap berdiri tegak di hadapan pusaran cahaya itu, tidak bergeming. Matanya menatap lurus ke dalam portal, dalam diam, lalu beralih pada Kael.

"Kael..." ucapnya pelan. "Kau yakin Rira bersama kalian?"

Kael mengangguk tegas. "Ya. Kami bertemu dengannya saat sedang menyusul Karim mencari petunjuk suku Surya. Dia mengatakan suku Surya dalam bahaya sehingga kami mengikutinya ke tempat ini."

Arkha langsung maju, ekspresinya cemas dan penuh tekanan. Tanpa banyak bicara, ia menjatuhkan diri ke tanah dan bersujud di hadapan Lynx.

"Kepala suku, aku mohon... tolong temukan Rira... Kami tidak tahu ke mana dia menghilang. Mungkin dia terluka dan menunggu kita di dalam sana..."

Narendra segera menarik Arkha berdiri dengan lembut, matanya agak basah. "Arkha, tenanglah. Guru pasti akan menyelamatkan Rira. Jangan khawatir..."

Namun Lynx hanya menarik napas dalam, menatap seluruh orang di sekelilingnya sebelum berkata pelan, "Selain Rira... apakah ada orang lain bersama kalian? Di mana Karim?"

Kael menggeleng dengan lemah. "Tidak. Kami tidak bersama Karim. Hanya Rira yang terpisah dari kami didalam sana saat kami ingin menolong suku Surya seperti yang di ceritakan Rira. Setelah memasuki tempat itu, kami terpisah dan tidak bisa menemukannya karena banyak binatang iblis menyerang."

"Suku Surya? Apakah kalian menemukannya?" kata Leena sambil menatap Kael dengan penuh harap.

Namun Kael menggelengkan kepalanya.

Suasana mendadak hening. Angin dari pusaran portal berputar cepat, membuat jubah mereka berkibar pelan. Namun tak satu pun dari mereka berbicara. Semua menunggu keputusan dari Lynx.

Leena melangkah lebih dekat, menatap mata Lynx penuh curiga. "Ada apa? Kenapa kau terlihat berbeda? Kau... menyembunyikan sesuatu?"

Namun alih-alih menjawab, Lynx justru mengangkat tangan kirinya. Dengan tenang, ia meraih kunci dimensi yang masih memancarkan cahaya putih. Satu getaran kecil menyebar dari telapak tangannya, lalu... dalam sekejap, pusaran itu berhenti. Cahaya menyusut. Gerbang tertutup sepenuhnya.

"Apa yang kau lakukan?!" Arkha berteriak kaget, matanya membelalak. "Kepala suku, kenapa kau menutupnya?! Rira masih di sana!"

Lynx menatap Arkha dengan tenang, suaranya datar. "Rira... sudah tidak berada di sana."

Semua orang menatap Lynx dengan ekspresi campur aduk antara kebingungan dan tidak percaya. Lala, Jelita, dan Leena sama-sama melangkah maju. Tidak satu pun dari mereka berkata-kata, menunggu penjelasan selanjutnya.

Lynx memejamkan mata sebentar, lalu mulai menjelaskan dengan nada tenang namun dingin.

"Sebenarnya, aku juga bertemu Rira secara tidak sengaja saat aku menerima sinyal tanda bahaya dari kertas formasi yang kuberikan kepada kalian."

Lynx menatap wajah Arkha, Kael dan Narendra. Tatapannya dalam, seolah menembus waktu.

"Karena mengejar waktu, aku membawa Rira menyusuri jejak kalian hingga tiba ditempat ini dan jejak terputus. Karena panik, aku bahkan tidak sempat bertanya mengenai suku Surya. Saat berusaha membuka gerbang ini... kami menemukan kunci dimensi ini sudah dalam keadaan rusak. Bersama Rira, aku mencoba membuka gerbang dengan berbagai cara, tapi semua metode gagal. Aku lalu pergi ke Sekte Api Langit mencari petunjuk bersamanya. Bahkan bertanya pada para leluhur dari kerajaan Jinghai..."

Ia berhenti sejenak, menatap ke kejauhan.

"Tapi semua upaya itu sia-sia. Tidak satu pun dari mereka tahu bagaimana membukanya. Namun tiba-tiba saja Rira menghilang. Tanpa jejak. Dan setelah itu... Lala tersadar. Dia menemukan metode untuk membuka kembali portal." Kata Lynx sambil menatap wajah Lala.

Lynx tidak menyebutkan peristiwa para leluhur yang bertarung karena dendam. Ia menilainya tidak penting untuk situasi saat ini.

Namun keheningan yang menyusul setelah penjelasannya jauh lebih berat dari sebelumnya.

Narendra menatap Lynx tak berkedip. Jelita melangkah mundur perlahan. Leena menahan napas, matanya membulat tak percaya.

"Kau... kenapa baru cerita mengenai hal ini? Lalu kemana Rira sekarang?" bisik Leena.

"Kepala suku, Kenapa tidak memberitahu sejak awal?" tambah Jelita dengan suara bergetar.

Lynx menggelengkan kepalanya."Aku tidak ingin membuat kalian khawatir. Aku masih berusaha mencari petunjuk kemana menghilangnya dia."

"Kepala suku, suku Surya mungkin berada didalam sana seperti yang di ceritakan Rira." Arkha mengingatkan, nadanya terdengar cemas mengingat Lynx sudah menutup gerbangnya.

"Tidak ada siapapun di tempat itu. Tanpa kalian sadari, aku sudah memasuki gerbang itu dan memeriksa seluruh tempat ini. Tidak ada keberadaan satupun orang disana bahkan jejak fragmen senjata iblis juga tidak kutemukan." Kata Lynx sambil mengingat kejadian saat dia memasuki gerbang untuk memeriksa jejak fragmen dan mencari petunjuk tentang Rira yang dimaksud. Dia berpikir kemungkinan salah satu dari mereka adalah Rira dunia asli, namun dia tidak menemukannya.

Lynx tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap kunci dimensi di tangannya... dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, wajahnya tampak ragu.

Semua mata memandang Lynx dengan heran dan kagum, betapa cepatnya Lynx bergerak sehingga mereka tidak menyadarinya, terutama Leena, yang merasa ranahnya sudah meningkat, tetap belum bisa merasakan pergerakan Lynx.

"Tunggu, tunggu..." Lala mengangkat tangan, ekspresinya serius. "Bukankan ini terdengar aneh?"

Semua orang menoleh ke arah Lala. Lynx memicingkan mata, lalu mengangguk perlahan. "Benar. Itu juga yang membuatku bingung. Jika benar Rira yang membawa kalian masuk ke tempat itu dan berhasil keluar, kenapa dia tidak mengatakan satu patah kata pun tentang hal itu kepadaku? Bukankah seharusnya dia menjelaskannya dari awal?"

Ia menatap Kael dan yang lainnya bergantian. Suaranya datar tapi tajam. "Apakah kalian melihat sesuatu yang tidak biasa dari dirinya? Di mana tepatnya kalian bertemu dengannya?"

Narendra mengangkat tangan, mengingat sesuatu. "Aku... sebenarnya merasa ada yang ganjil. Waktu itu, kami melihatnya sedang bertarung dengan seseorang grandmaster yang tidak kami kenali. Tapi yang membuatku heran, dia mengalahkannya dengan sangat mudah. Dia bilang grandmaster itu sudah terluka parah, tapi aku melihat sendiri... Bekas lukanya seperti belum lama terjadi."

Narendra mengernyitkan dahi. "Selain itu... dia memiliki formasi pemindah ruang. Aku tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkannya. Yang pasti, dia terasa sangat berbeda dan misterius."

Lala meliriknya tajam, bibirnya membentuk senyum menggoda. "Narendra, kau yakin bukan karena kau merasa kalah kuat, jadi mulai berpikir aneh-aneh?"

Narendra langsung menatap Lala, wajahnya datar. "Aku serius, Lala. Aku tidak sedang bercanda. Rira... terlalu misterius." Tapi baru ia hendak melanjutkan, matanya menangkap sosok Lala dengan lebih jelas.

"Lala... astaga... kamu selamat?" gumamnya. Karena panik, mereka bertiga tidak menyadari keadaan Lala yang baru di selamatkan oleh Lynx.

Tanpa berpikir, Narendra langsung melangkah dan memeluk Lala erat. Rasa lega terpancar dari wajahnya. Arkha yang melihat hal itu, ikut tersenyum dan dengan langkah lebar, memeluk mereka berdua tanpa ragu.

"Lala, kami kira kau..." Arkha tidak melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat. Dia terlalu fokus kepada Rira sehingga melupakan nyawa Lala yang juga terancam.

"Heh, apa-apaan kalian ini..." Lala berusaha mendorong Narendra, wajahnya merah padam. Tapi ia tidak benar-benar menolak pelukan itu. Hatinya hangat, tahu bahwa semua orang sangat mengkhawatirkannya.

Kael berdiri tidak jauh, menatap mereka dengan senyum lega. Setelah sekian lama dalam ketegangan dan ketidakpastian, akhirnya mereka kembali berkumpul.

"Lynx," kata Kael, "kau berhasil. Kamu sangat luar biasa."

Lynx mengangguk pelan. "Kami berhasil menemukan jalur menuju dunia kalian. Sekarang aku bisa mengantar kalian kapanpun kalian ingin kembali."

Namun kebahagiaan mereka belum usai saat Arkha tiba-tiba menunjuk ke arah Leena. Pandangannya tertuju pada sosok kecil yang berdiri setengah bersembunyi di balik kaki Leena. Gadis itu berusia sekitar tujuh tahun, rambutnya hitam panjang, dan mata besarnya menatap mereka dengan takut-takut.

Narendra, Arkha, dan Kael saling pandang.

"Eh... siapa dia?" tanya Narendra sambil melirik ke arah Lynx, lalu ke Leena. "Guru... berapa lama sebenarnya kami terperangkap di sana? Kenapa... kenapa sekarang guru sudah punya anak sebesar ini?"

Wajah Leena langsung memerah, matanya membelalak.

"Narendra! Jangan menggodaku sembarangan!" katanya kesal. "Dia bukan putriku! Namanya Isha. Kami menemukannya saat ke dimensi lain dan membawanya pulang. Dia yatim piatu... dan..."

Narendra langsung berjongkok di depan Isha, senyumnya ramah dan hangat.

"Isha, jangan takut ya. Kami bukan orang jahat. Kami semua akan melindungimu," ucapnya dengan suara lembut.

Lalu ia melanjutkan, senyum itu perlahan memudar. "Kakak juga punya adik... namanya Kanha."

Narendra menunduk, matanya berkabut. Kenangan tentang adiknya yang terpisah begitu lama kembali menghantam dadanya. Di tengah kebahagiaan reuni itu, bayangan adiknya yang belum ditemukan membuat dadanya terasa sesak.

Isha menatap Narendra, lalu menarik ujung jubah Leena, berbisik pelan, "Kakak itu... sedih ya?"

Leena hanya mengangguk kecil, lalu memeluk Isha lebih erat. Matanya menatap langit yang gelap, dimana petir kesengsaraan sedang menunggu targetnya yang belum terlihat.

